Menyadari bahwa tingkat polusi di udara sudah semakin tinggi, pemerintah sedang merancang proyek bangunan hijau. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya menanggulangi dampak lingkungan dan perubahan iklim. Caranya adalah dengan merencanakan renovasi pasar yang bisa berdampak pada efisiensi dan emisi gas rumah kaca.

Seperti yang dikutip dalam salah satu berita Rumah.com, secara global sektor bangunan gedung mengonsumsi energi, menggunakan sumber daya dalam pembangunan, memakai persediaan air bersih, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca. Saat ini, pemerintah sedang menilai kinerja bangunan gedung hijau terhadap perencanaan pembangunan dan renovasi di 10 pasar yang tersebar di Indonesia.

Masih melansir dari Rumah.com, Direktur Bina Penataan Bangunan, Diana mengatakan bahwa dalam upaya penanggulangan dampak lingkungan dan pelaksanaan mitigasi perubahan iklim, sudah seharusnya bangunan gedung melakukan efisiensi dalam penggunaan energi, air, dan sumber daya lainnya pada bangunan gedung, khususnya bangunan gedung milik pemerintah.

Namun, Pakar Energi Rana Yusuf Nasir, yang dikutip dari Rumah.com, menyatakan bahwa faktanya baru 44 persen gedung di Jakarta yang menerapkan konsep hemat energi. Di Jakarta sendiri, lahan hijau tidak lebih dari 10 persen saja. Menurut Rana, Jakarta butuh 650 hektar tambahan lahan hijau dari asumsi 10 persen dari luas Jakarta yang diperkirakan 65.000.

Lantas, apa solusinya? Tentu saja emisi gas rumah kaca harus ditekan secepatnya. Caranya adalah dengan menerapkan konsep ‘go green’, termasuk program penanaman pohon, serta gerakan ‘green roof’. Selain itu, bangunan baru yang hendak dibangun juga harus menyertakan lahan hijau di dalamnya.

Sumber:

https://www.rumah.com/berita-properti/2019/9/182966/bangunan-hijau-dirancang-untuk-renovasi-pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *